Kamis, 04 April 2013

Apakah Kebudayaan Dapat Menjadikan Seseorang Berbudaya ?

Arief Syahrul Tiro
1262542019
Pendidikan Sejarah B


       Jika kita akan mengangkat tema diatas sebagai bahan sebuah pembahasan diskusi, yaitu "Apakah Kebudayaan Dapat Menjadikan Seseorang Berbudaya ?", tentu saja, saya mengatakan "Iya, kebudayaan membuat seseorang berbudaya".
       
       Pada dasarnya, Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari beberapa unsur unsur yang rumit yang terdiri atas beberapa hal mendasar, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
       
       Bahasa, sebagaimana juga budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

       
       Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
       
       Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
      
       Budaya yang ada kemudian berkumpul dan menyatu, menjadi sebuah ciri non materiil pada suatu masyarakat. Dari pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa Kebudayaan adalah “sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.”

        Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Berikut adalah beberapa cara pandang terhadap suatu kebudayaan :
1.      Kebudayaan Sebagai Peradaban

       Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang “budaya” ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap ‘kebudayaan’ sebagai “peradaban” sebagai lawan kata dari “alam”. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.
       Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang “elit” seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang “berkelas”, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah “berkebudayaan”.
       Orang yang menggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut sebagai orang yang “tidak berkebudayaan”; bukan sebagai orang “dari kebudayaan yang lain.” Orang yang “tidak berkebudayaan” dikatakan lebih “alam,” dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran “manusia alami” (human nature)
       Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan “tidak alami” yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan “jalan hidup yang alami” (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.
       Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap “tidak elit” dan “kebudayaan elit” adalah sama – masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.

2.      Kebudayaan Sebagai Sudut Pandang Umum


       Selama Era Romantis, para cendekiawan di Jerman, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan nasionalisme – seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan Jerman, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan Kekaisaran Austria-Hongaria – mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam “sudut pandang umum”. Pemikiran ini menganggap suatu budaya dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara “berkebudayaan” dengan “tidak berkebudayaan” atau kebudayaan “primitif.”
       Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori evolusi, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.
       Pada tahun 50-an, subkebudayaan – kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya – mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli sosiologi. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide kebudayaan perusahaan – perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja organisasi atau tempat bekerja.

3.      Kebudayaan Sebagai Media Substansi


       Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah produk dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan tribalisme.







       Pada perkembangan selanjutnya, maka kebudayaan yang juga mempunyai sangkut paut dengan budaya, dimana kebudayaan muncul dari sebuah budaya, dan budaya tersebut mempengaruhi masyarakat. Individu yang terdapat dalam masyarakat tersebut banyak yang terpengaruh dengan kebudayaan yang ada tanpa mereka sadari.
          Namun, kebudayaan yang sekarang muncul, tak selamanya berkaitan dengan harmonis diantara kehidupan masyarakat. Dan budaya tersebut pun menjadi terkucilkan dan dipinggirkan. Kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan kebudayaan yang muncul akibat pikiran mereka sendiri, dan juga budaya yang muncul dari sebuah komunitas yang menganggap dirinya bukanlah bagian dari masyarakat.
       Pada hakikatnya, setelah melihat beberapa faktor diatas dan menghubungkan dengan pertanyaan awal, maka saya dapat menarik dan mengambil suatu kesimpulan bahwa  “kebudayaan itu sangatlah jelas mempengaruhi seseorang dan kebudayaan dapat menjadikan seseorang menjadi berbudaya, walaupun pada dasarnya, kadang mereka tak menyadari bahwa yang telah mereka lakukan itu adalah salah satu contoh dari budaya yang mereka ketahui dan mereka anut”

Rabu, 03 April 2013

Islam Masa Khulafaur Rasyidin

       Islam, setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. mengalami sebuah status, yaitu tidak dapat digantikan oleh siapapun (Khatami al-anbiya’ wa al-mursalin), namun kedudukan beliau yang kedua, sebagai pemimpin umat harus segera ada penggantinya. Orang tersebutlah yang dinamakan "Khalifah" yang menggantikan nabi untuk memimpin umat Islam dalam memberi petunjuk dan jalan yang benar serta melestarikan hukum dan ajaran Islam. Maka setelah  nabi wafat, para pemuka Islam langsung bertindak untuk segera mencari penggantinya. 

       Pada perkembangan selanjutnya, muncullah Khulafaur Rasyidin sebagai empat Khalifah pertama yang menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW. sebagai peminpin umat Islam. Mereka semua adalah pemimpin yang dekat sekaligus sahabat nabi, penerusan kepemimpinan mereka bukan melalui garis keturunan, melainkan pemilihan dan penunjukan secara mufakat. 

       Khalifah Rasyidah merupakan pemimpin umat islam yang menggantikan Nabi Muhammad SAW setela wafat, mereka adalah :
  1. Abu Bakar Ash-Shiddiq ( 11-13 H / 632-634 M)
  2. Umar bin Khattab ( 13-24 H / 634-644 M)
  3. Utsman bin Affan ( 24-36 H / 644-656 M)
  4. Ali bin Abi Thalib (36-41 H / 656-660 M)
       Pada masa ini, Islam berkembang sangatlah pesat, hal itu dikarenakan :
  1. Islam, disamping merupakan ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, juga agama yang mementingkan soal pembentukan masyarakat.
  2. Dalam dada para sahabat, tertanam keyakinan tebal tentang kewajiban menyerukan ajaran-ajaran Islam (dakwah) ke seluruh penjuru dunia. Semangat dakwah tersebut membentuk satu kesatuan yang padu dalam diri umat Islam.
  3. Bizantium dan Persia, dua kekuatan yang menguasai Timur Tengah pada waktu itu, mulai memasuki masa kemunduran dan kelemahan, baik karena sering terjadi peperangan antara keduanya maupun karena persoalan-persoalan dalam negeri masing-masing.
  4. Pertentangan aliran agama di wilayah Bizantium mengakibatkan hilangnya kemerdekaan beragama bagi rakyat. Rakyat tidak senang karena pihak kerajaan memaksakan aliran yang dianutnya. Mereka juga tidak senang karena pajak yang tinggi untuk biaya peperangan melawan Persia.
  5. Islam datang ke daerah-daerah yang dimasukinya dengan sikap simpatik dan toleran, tidak memaksa rakyat untuk mengubah agamanya untuk masuk Islam.
  6. Bangsa Sami di Syria dan Palestina dan bangsa Hami di Mesir memandang bangsa Arab lebih dekat kepada mereka daripada bangsa Eropa, Bizantium, yang memerintah mereka.
  7. Mesir, Syria dan Irak adalah daerah-daerah yang kaya. Kekayaan itu membantu penguasa Islam untuk membiayai ekspansi ke daerah yang lebih jauh.
       Mulai dari masa Abu Bakar sampai kepada Ali dinamakan periode Khilafah Rasyidah. Para khalifahnya disebut al-Khulafa' al-Rasyidun, (khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk). Ciri masa ini adalah para khalifah betul-betul menurut teladan Nabi. Setelah periode ini, pemerintahan Islam berbentuk kerajaan. Kekuasaan diwariskan secara turun temurun. Selain itu, seorang khalifah pada masa khilafah Rasyidah, tidak pernah bertindak sendiri ketika negara menghadapi kesulitan. Mereka selalu bermusyawarah dengan pembesar-pembesar yang lain. Sedangkan para penguasa sesudahnya sering bertindak otoriter.

dikutip dari berbagai sumber

Renaissance

       Renaissance muncul akibat dari ketidaksepakatan antara beberapa tokoh dengan ordo gereja. Pada jaman tersebut, hampir seluruh kegiatan aspek hidup manusia diatur dan dipedomani oleh keputusan Gereja. Dominasi gereja pada saat itu amat kuat. Agama Kristen mempengaruhi berbagai kebijakan yang ada. Dapat dikatakan bahwa penguasa tidak ada apa apanya dibandingkan dengan pihak gereja pada saat itu. Berbagai hal akan dilakukan pihak gereja untuk menunjukkan dominasinya, tetapi jika ada pihak yang tak setuju, maka akan dibalas dengan perbuatan yang tak sepantasnya dilakukan.

       Kehidupan saat itu mendapatkan doktrinasi dari pihak gereja. Kehidupan saat itu seolah olah telah diatur oleh Tuhan lewat perpanjangan tangan melalui gereja. Pemikiran tentang ilmu pengetahuan hanya sebatas pada Teologi semata. Pemikiran pada saat itu hanya mengacu kepada pembenaran ajaran agama dan untuk alat bukti. Oleh karena itu, zaman tersebut disebut Dark Age.

       Dengan adanya pembatasan yang sangat dominan yang dilakukan oleh pihak gereja, maka disitulah muncul semangat Renaissance. Budaya Renaissance muncul pertama kali di Italia. Renaissance mucul akibat tumbuhnya kota perdagangan yang mengubah pola pikir manusia pada saat itu. Juga timbul karena penghapusan stratifikasi sosial.

       Dampak Renaissance :
  • Munculnya aliran baru yang mementingkan kebebasan akal
  • Renaissance membentuk masyarakat perdagangan yang berdaya maju
  • Banyak melahirkan tokok pemikir seperti Leonardo Da Vinci dan Michelangelo
  • Renaissance banyak melahirkan tokoh perubahan dan melahirkan masyarakat yang beradab

Jumat, 29 Maret 2013

Sejarah Lahir dan Berkembangnya Hindu Buddha


SEJARAH LAHIR DAN BERKEMBANGNYA AGAMA HINDU BUDDHA DI INDIA

       Agama adalah sesuatu kepercayaan tentang Tuhan serta segala sesuatu yang berkaitan dengannya. India merupakan tempat yang terletak di dataran Asia Selatan dan merupakan tempat lahirnya agama agama besar yang dianut oleh umat manusia yang berada di seluruh dunia diantaranya yaitu agama Hindu dan Buddha.

AGAMA HINDU

       Agama Hindu di sebarkan oleh Bangsa Arya (Bangsa Pendatang) setelah masuk melalui celah Carber yang memisahkan antar daratan Eropa dan Asia. Dan pada saat itu Bangsa Arya merasa sangat nyaman untuk tinggal di India karena India adalah termasuk daerah yang sangat subur sehingga Bangsa Arya mengalahkan Bangsa asli India (Bangsa Dravida). Cara Bangsa Arya untuk mengeksistensikan Bangsanya di India adalah dengan cara membuat Kasta, yaitu pelapisan/stratefikasi/pembagian masyarakat. Perbedaan Bangsa Arya dengan Bangsa Dravida itu sendiri terdapat pada bagian fisiknya, yaitu Bangsa Arya berkulit putih sedangkan Bangsa Dravida berkulit hitam.

Kasta terbagi menjadi 4 :
  1. Brahmana
  2. Ksatria
  3. Waisa
  4. Sudra

Proses perkembangan agama di India

Perkembangan agama Hindu di India berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Dengan di bagi menjadi empat priode yaitu:
                 
1.     Jaman Weda  
           Weda berasal darikata Vid yang Artinya mengetahui. Weda merupakan sastra tertua di  duniayang pengaruhnya sangat penting bagi perkembangan agama Hindu. Jama weda meliputi jaman Weda Kuno, jaman Brahmana dan jaman Upanisad.
·         Jaman Weda Kuno -> priode zaman weda kuno bisa dikatakan pula sebagai awal kedatangan bangsa Arya di Lemba Sungai Indus sekitar 1500 SM. Dalam masa pertama priode ini system kepercayaan beraliran politeisme yakni sistemkepercayaan terhadap banyak dewa. Di antaranya ialah:
  • Dewa Agni                  Merupakan Dewa Api
  • Dewa Wayu               Merupakan Dewa Angin
  • Dewa Marut               Merupakan Dewa Angin Ribut
  • Dewa Surya               Merupakan Dewa Matahari
  • Dewa Candra             Merupakan Dewa Bulan                                                   
  • Dewa Waruna           Merupakan Dewa Angkasa
  • Dewa Parjanya          Merupakan Dewa Hujan
  • Dewa Indra                Merupakan Dewa Perang
  • Dewa Aswin               Merupakan Dewa Kembar/Kesehatan
  • Dewa Usa                   Merupakan Dewa Fajar

       Namun Dalam memuja Dewa di anggap sebagai satu dewa saja yakni monotheisme (percaya akan satu Tuhan) seakan tidak adanya pemujaan terhadap dewa yang lain oleh karena itu di sebut Henotheisme. Jaman Weda Kuno kemudian dilanjutkan dengan Weda Belakang yaitu zaman penulisan dan penghimpunan Wahyu Weda lainya, yaitu Sama Weda, Yayur Weda dan Athara Weda.
·         
       Zaman Brahmana -> Di zaman ini merupakan perkembangan weda yang berpusat pada kehidupan ke agamaan yang berupa ritual-ritual upacara atau persembaan (sesaji) kepada keyakinan mereka. Di zaman ini kedudukan Brahmana sangat penting karena tanpa adanya Brahmana maka upacara yang kebanyakan dengan persembahan terhadap dewa tidak bisa dilaksanakan dan tanpa sesaji dewa tidak dapat hidup. Karena perannya yang amat penting dalam ke agamaan maka Brahmana berkedudukan dikasta tertinggi diantara kasta-kasta yang lain seperti kasta Ksatria, Wesya dan Sudra. Ke empat kasta tersebut merupakan tingkat derajad di dalam masyarakat waktu itu. Ke empat kasta ini disebut sebagai Catur Wana. Di zaman ini penulisan Weda berkembang menjadi empat bagian yaitu:
      1.      Regweda
      2.      Samaweda
      3.      Yajurweda
      4.      Atharaweda
·         
       Zaman Upanisad -> di zaman di tandai dengan munculnya kitab Upanisad. Dimana kehidupan agama di zaman ini berpangkal pada filosofi atau kerohanian. Di zamanterdapat pengetahuan batin sehingga dapat membuka takbir alam ghaib. Konsepsi terdapat keyakinan pada panca Sraddha yaitu Brahman, Atman, Karman, Samsara dan Moksa. Demikian konsepsi tujuh hidup yang di sebut Parusartha yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksa pada zaman ini di formulasi dengan Jelas. Karma ialah perbuatan baik-buruk dari manusia ketika hidup di dunia yang menentukan kehidupan berikutnya. Moksa ialah tingkatan hidup tertinggi yang terleas dari ikatan keduniawian atau terbebas dari renkarnasi.

2.     Zaman Wira Carita
       Jaman ini meliputi masa perkembangn kitab-kitab Upanisad disertai munculnya kitab Wira Carita Ramayana dan Mahabarata sebagai unsure contoh sikap yang baik dan benar.

3.     Zaman Sutra
       Zaman ini ditandai dengan munculnya kitab-kitab Sutra yang memuat penjelasan uraian dan komentar terhadap Weda dan Mantra, seperti Kalpasutra (kitab penuntun sesaji).

4.     Zaman Scolastik
       Zaman ini ditandai dengan lahirnya pemikiran-pemikiran besar seperti Sankara, Ramanuja, Madhwa dan lain-lain.

       Agama Hindu mengalami sebuah pasang surut dengan munculnya agama-agama baru di India yakni Budha, Jaina dan Sikh. Namun berkat peranan Dinasti Sunga dan Dinasti Gupta, agama Hindu kembali mendapat tempat pada masyarakat India sampai saat ini. Di Zaman Gupta yakni pada masa Pemerintahan Samudragupta dan Candragupta II. Ayah dan anak ini merupakan dua di antara pemimpin-pemimpin hebat bangsa Gupta. Dinasti tersebut menguasai hamper seluruh India Utara dari 320 sampai 497 M, meski pengaruh mereka tersebar lebih luas dan bertahan lebih lama. Bahkan gua-gua utama utama di Ajanta dibuat oleh dinasti bernama Vakatajka, yang mendominasi India sebelah selatan menjelang ahir dinasti Gupta dan yang mewarisi banyak gaya budya Gupta.Bukti fisik menunjukkan bahwa kemakmuran berjalan sejajar dengan keunggulan kesenian. Para Arsitek pada masa itu membangun candi candi yang Indah dan para pematung memahat wujud dewa-dewi Hindu.

       Pusat kebudayaan Hindu adalah di Mohenjo Daro (Lakarna) dan Harapa (Punjat) yang tumbuh sekitar 1.500 SM. Dan kitab yang di gunakan adalah Weda yang terbagi atas 4, yaitu :
  1. Regweda (syair-syair pujian terhadap dewa-dewa)
  2. Samaweda (pemberian tanda nada pada regweda untuk dinyanyikan)
  3. Yayurweda (doa pengantar sesajian yang diiringi regweda dan samaweda)
  4. Atharwaweda (berisi tentang mantra dan ilmu gaib)

       Biasanya kasta di Indonesia digunakan hanya untuk pembagian tugas saja karna dipakai oleh Bangsa Indonesia itu sendiri. Sedangkan kasta di India digunakan untuk membedakan antara Bangsa Arya dengan Bangsa Dravida.

       Agama Hindu dalam pelaksanaan ritual ibadah (penyampaian doa kepada dewa) harus di lakukan oleh Kaum Brahmana saja. Sehingga kaum-kaum di bawahnya merasa kesulitan ketika kaum Brahmana meminta qurban (pembayaran yang berlebih) kepada kaum-kaum di bawahnya yang meminta tolong untuk disampaikan doanya kepada dewa-dewa mereka. Sehingga banyak masyarakat yang berpindah agama menjadi agama Budha.

       Perkembangan agama Hindu-Budha tidak dapat lepas dari peradaban lembah Sungai Indus, di India. Di Indialah mulai tumbuh dan berkembang agama dan budaya Hindu dan Budha. Dari tempat tersebut mulai menyebarkan agama Hindu-Budha ke tempat lain di dunia. Agama Hindu tumbuh bersamaan dengan kedatangan bangsa Aria (cirinya kulit putih, badan tinggi, hidung mancung) ke Mohenjodaro dan Harappa melalui celah Kaiber (Kaiber Pass) pada 2000-1500 SM dan mendesak bangsa Dravida (berhidung pesek, kulit gelap) dan bangsa Munda sebagai suku bangsa asli yang telah mendiami daerah tersebut.
       Bangsa Dravida disebut juga Anasah yang berarti berhidung pesek dan Dasa yang berarti raksasa. Bangsa Aria sendiri termasuk dalam ras Indo Jerman. Awalnya bangsa Aria bermatapencaharian sebagai peternak kemudian setelah menetap mereka hidup bercocok tanam. Bangsa Aria merasa ras mereka yang tertinggi sehingga tidak mau bercampur dengan bangsa Dravida. Sehingga bangsa Dravida menyingkir ke selatan Pegunungan Vindhya.

       Orang Aria mempunyai kepercayaan untuk memuja banyak Dewa (Polytheisme), dan kepercayaan bangsa Aria tersebut berbaur dengan kepercayaan asli bangsa Dravida. Oleh karena itu, Agama Hindu yang berkembang sebenarnya merupakan sinkretisme (percampuran) antara kebudayaan dan kepercayaan bangsa Aria dan bangsa Dravida.

       Selain itu, istilah Hindu diperoleh dari nama daerah asal penyebaran agama Hindu yaitu di Lembah Sungai Indus/ Sungai Shindu/ Hindustan sehingga disebut agama dan kebudayaan Hindu. Terjadi perpaduan antara budaya Arya dan Dravida yang disebut Kebudayaan Hindu (Hinduisme). Daerah perkembangan pertamanya terdapat di lembah Sungai Gangga, yang disebut Aryavarta (Negeri bangsa Arya) dan Hindustan (tanah milik bangsa Hindu).

Dalam ajaran agama Hindu dikenal 3 dewa utama, yaitu:
  • Brahma sebagai dewa pencipta segala sesuatu.
  • Wisnu sebagai dewa pemelihara alam.
  • Siwa sebagai dewa perusak.
Ketiga dewa tersebut dikenal dengan sebutan Tri Murti.

       Kitab suci agama Hindu disebut Weda (Veda) artinya pengetahuan tentang agama. Pemujaan terhadap para dewa-dewa dipimpin oleh golongan pendeta/Brahmana. Ajaran ritual yang dijadikan pedoman untuk melaksanakan upacara keagamaan yang ditulis oleh para Brahmana disebut kitab Veda/Weda yang terdiri dari 4 bagian, yaitu:
  • Reg Veda, berisi tentang ajaran-ajaran Hindu, merupakan kitab tertua (1500-900 SM) kira kira muncul saat bangsa Aria ada di Punjab.
  • Yajur Veda, berisi doa-doa yang dibacakan waktu diselenggarakan upacara agama, lahir saat bangsa Aria menguasai daerah Gangga Tengah.
  • Sama Veda, berisi nyanyian puji-pujian yang wajib dinyanyikan saat diselenggarakan upacara agama.
  • Atharwa Veda, berisi kumpulan mantera-manteragaib, doa-doa untuk menyembuhkan penyakit. Doa/ mantra muncul saat bangsa Arya menguasai Gangga Hilir.

       Hindu mengenal pembagian masyarakat atas kasta- kasta tertentu, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Pembagian tersebut didasarkan pada tugas/ pekerjaan mereka.
  1. Brahmana bertugas mengurus soal kehidupan keagamaan, terdiri dari para pendeta.
  2. Ksatria berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk pertahanan Negara, terdiri dari raja dan keluarganya, para bangsawan, dan prajurit.
  3. Waisya bertugas berdagang, bertani, dan berternak, terdiri dari para pedagang.
  4. Sudra bertugas sebagai petani/ peternak, para pekerja/ buruh/budak, merupakan para pekerja kasar.

       Di luar kasta tersebut terdapat kasta Paria terdiri dari pengemis dan gelandangan. Perkawinan antar kasta dilarang dan jika terjadi dikeluarkan dari kasta dan masuk dalam golongan kaum Paria seperti bangsa Dravida. Paria disebut juga Hariyan dan merupakan mayoritas penduduk India.

       Pembagian kasta muncul sebagai upaya pemurnian terhadap keturunan bangsa Aria sehingga dilakukan pelapisan yang bersumber pada ajaran agama. Pelapisan tersebut dikenal dengan Caturwangsa/ Caturwarna, yang berarti empat keturunan/ empat kasta. Pembagian kasta tersebut didasarkan pada keturunan.

Berikut ini merupakan ajaran dalam agama Hindu :
  • Samsara adalah merupakan salah satu ajaran agama hindu yang menyatakan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu penderitaan atau kesengsaraan.
  • Karma adalah merupakan perbuatan dari seseorang baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk.
  • Reinkarnasi adalah kelahiran kembali.

KEMUNDURAN AGAMA HINDU

       Pada abad ke 6 SM agama Hindu mengalami kemunduran disebabkan oleh faktor-faktor, yaitu:
  1. Kaum Brahmana yang memonopoli upacara keagamaan membuat sebagai dari mereka bertindak sewenang- wenang. Contoh: rakyat dibebankan untuk memberikan korban yang telah ditetapkan.
  2. Sistem kasta membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahirannya. Golongan Brahmana merasa berada pada kasta tertinggi dan paling berkuasa terutama untuk mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu lainnya. Sehingga hal ini menimbulkan rasa anti agama.
  3. Timbul golongan yang berusaha mencari jalan sendiri untuk mencapai hidup abadi yang sejati. Golongan tersebut disebut golongan Buddha yang dihimpun oleh Sidharta. 

AGAMA BUDDHA

       Agama Budha tumbuh di India tepatnya bagian Timur Laut. Agama Budha muncul sebagai reaksi terhadap domonisi golongan Brahmana atas ajaran dan ritual keagamaan dalam masyarakat India. Selain itu adanya larangan bagi orang awam untuk mempelajari kitab suci. Bahkan sebelumnya kaum ksatria dan raja harus tunduk kepada Brahmana. Sidharta memandang bahwa sistem kasta dapat memecah belah masyarakat bahkan sistem kasta dianggap membedakan derajat dan martabat manusia berdasarkan kelahiran.

       Oleh karena itu, Sidharta berusaha mencari jalan lain untuk mencapai moksa yang kemudian berhasil ia peroleh di Bodhgaya (tempat ia memperoleh penerangan agung). Pahamnya disebut agama Budha. Menurut agama Budha kesempurnaan (Nirwana) dapat dicapai setiap orang tanpa harus melalui bantuan pendeta/ kaum Brahmana. Setiap orang mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk mencapai kesempurnaan tersebut asalkan ia mampu mengendalikan dirinya sehingga terbebas dari samsara.

       Sidharta Gautama dikenal sebagai Budha atau seseorang yang telah mendapat pencerahan. Sidharta artinya orang yang mencapai tujuan. Sidharta disebut juga Budha Gautama yang berarti orang yang menerima bodhi.

   


Proses berkembangnya Agama Buddha

1.     Tahap Awal
       Sebelum disebarkan di bawah perlindungan maharaja Asoka pada abad ke-3 SM, agama Buddha kelihatannya hanya sebuah fenomena kecil saja, dan sejarah peristiwa-peristiwa yang membentuk agama ini tidaklah banyak tercatat. Dua konsili (sidang umum) pembentukan dikatakan pernah terjadi, meski pengetahuan kita akan ini berdasarkan catatan-catatan dari kemudian hari. Konsili-konsili (juga disebut pasamuhan agung) ini berusaha membahas formalisasi doktrin-doktrin Buddhis, dan beberapa perpecahan dalam gerakan Buddha.

2.      Abad ke-5 SM
       Konsili pertama Buddha diadakan tidak lama setelah Buddha wafat di bawah perlindungan  raja Ajatasattu dari Kekaisaran Magadha, dan dikepalai oleh seorang rahib bernama Mahakassapa di Rajagaha(sekarang disebut Rajgir). Tujuan konsili ini adalah untuk menetapkan kutipan-kutipan Buddha (sutta (Buddha)) dan mengkodifikasikan hukum-hukum monastik (vinaya): Ananda, salah seorang murid utama Buddha dan saudara sepupunya, diundang untuk meresitasikan ajaran-ajaran Buddha, dan Upali, seorang murid lainnya, meresitasikan hukum-hukum vinaya. Ini kemudian menjadi dasar kanon Pali, yang telah menjadi teks rujukan dasar pada seluruh masa sejarah agama Buddha.

3.      Tahun 383 SM
       Konsili kedua Buddha diadakan oleh raja Kalasoka di Vaisali, mengikuti konflik-konflik antara mazhab tradisionalis dan gerakan-gerakan yang lebih liberal dan menyebut diri mereka sendiri kaum Mahasanghika. Mazhab-mazhab tradisional menganggap Buddha adalah seorang manusia biasa yang mencapai pencerahan, yang juga bisa dicapai oleh para bhiksu yang mentaati peraturan monastik dan mempraktekkan ajaran Buddha demi mengatasi samsara dan mencapai arhat. Namun kaum Mahasanghika yang ingin memisahkan diri, menganggap ini terlalu individualistis dan egois. Mereka menganggap bahwa tujuan untuk menjadi arhat tidak cukup, dan menyatakan bahwa tujuan yang sejati adalah mencapai status Buddha penuh, dalam arti membuka jalan paham Mahayana yang kelak muncul. Mereka menjadi pendukung peraturan monastik yang lebih longgar dan lebih menarik bagi sebagian besar kaum rohaniwan dan kaum awam (itulah makanya nama mereka berarti kumpulan "besar" atau "mayoritas"). Konsili ini berakhir dengan penolakan ajaran kaum Mahasanghika. Mereka meninggalkan sidang dan bertahan selama beberapa abad di Indian barat laut dan Asia Tengah menurut prasasti-prasasti Kharoshti yang ditemukan dekat Oxus dan bertarikh abad pertama.

4.      Dakwa Asoka (+/- 260 SM)
       Maharaja Asoka dari Kekaisaran Maurya (273–232 SM) masuk agama Buddha setelah menaklukkan wilayah Kalingga (sekarang Orissa) di India timur secara berdarah. Karena menyesali perbuatannya yang keji, sang maharaja ini lalu memutuskan untuk meninggalkan kekerasan dan menyebarkan ajaran Buddha dengan membangun stupa-stupa dan pilar-pilar di mana ia menghimbau untuk menghormati segala makhluk hidup dan mengajak orang-orang untuk mentaati Dharma. Asoka juga membangun jalan-jalan dan rumah sakit-rumah sakit di seluruh negeri. Periode ini menandai penyebaran agama Buddha di luar India. Menurut prasasti dan pilar yang ditinggalkan Asoka (piagam-piagam Asoka), utusan dikirimkan ke pelbagai negara untuk menyebarkan agama Buddha, sampai sejauh kerajaan-kerajaan Yunani di barat dan terutama di kerajaan Baktria-Yunani yang merupakan wilayah tetangga. Kemungkinan besar mereka juga sampai di daerah Laut Tengah menurut prasasti-prasasti Asoka.  

KITAB SUCI

       Ajaran agama Budha dibukukan dalam kitab Tripitaka (dari bahasa Sansekerta Tri artinya tiga dan pitaka artinya keranjang). Kitab Tripitaka terdiri atas 3 kumpulan tulisan, yaitu :
  1. Sutta (Suttanata) Pitaka berisi kumpulan khotbah, pokok-pokok atau dasar ajaran sang Buddha
  2. Vinaya Pitaka berisi kodefikasi aturan-aturan yang berkenaan dengan kehidupan pendeta atau segala macam peraturan dan hukum yang menentukan cara hidup para pemeluknya.
  3. Abhrdharma Pitaka berisi filosofi (falsafah agama), psikologi, klasifikasi, dan sistematisasi doktrin

PERKEMBANGAN dan PERPECAHAN dalam AGAMA BUDDHA

       Perkembangan Agama Budha mencapai puncaknya kejayaannya pada masa pemerintahan raja Ashoka dari Dinasti Maurya. Ia menetapkan agama Budha sebagai agama resmi negara. Dan berkembang cepat serta dapat diterima masyarakat India. Hal tersebut dikarenakan, sebagai berikut :
  1. Didukung oleh bahasa yang digunakan adalah bahasa Prakrit yaitu bahasa rakyat sehari-hari dan bukan bahasa Sansekerta yang hanya dimengerti oleh kaum Brahmana.
  2. Agama Budha bersifat non-eksklusif, artinya agama Budha bisa diterima siapa saja dan tidak mengenal pembagian masyarakat atas kasta.
  3. Tidak mengenal perbedaan hak antara pria dan wanita

       Setelah 100 tahun Sang Budha wafat timbul bermacam-macam penafsiran terhadap hakikat ajaran Budha. Perpecahan dalam agama Budha terjadi karena masing-masing mempunyai pandangan/ aliran sendiri. Pandangan tersebut muncul dikarenakan masing masing dari mereka berpikir bahwa yang mereka yakini itu belum tentu benar dan punya jalan sendiri untuk mencapai semuanya. Diantaranya aliran yang terkenal yaitu Hinayana dan Mahayana.

Adapun Hinayana dan Mahayana yaitu :

  1. Hinayana artinya kendaraan kecil. Menurut aliran ini tiap orang wajib berusaha sendiri untuk mencapai nirwana. Untuk mencapai Nirwana sangat tergantung pada usaha diri melakukan meditasi. Hinayana, lebih tertutup hanya mengejar pembebasan bagi diri sendiri. Yang berhak menjadi Sanggha adalah para biksu dan biksuni yang berada di Wihara. Ajarannya lebih mendekati Budha semula. Pengikutnya sebagian besar berada di daerah Srilanka, Myanmar (Birma), dan Muangtai.
  2. Mahayana artinya kendaraan besar. Mahayana, sifatnya terbuka. Penganut aliran ini mengajarkan pembebasan bagi diri sendiri serta bermisi pembebasan bagi orang lain. Setiap orang berhak menjadi Sanggha sejauh sanggup menjalankan ajaran dan petunjuk sang Budha. Jadi aliran Mahayana mengajarkan untuk mencapai Nirwana setiap orang harus mengembangkan kebijaksanaan dan sifat welas asih (belas kasih). Setiap manusia berusaha hidup bersama/ membantu setiap orang lain dalam mencapai Nirwana. Ajarannya sudah berbeda dengan ajaran Budha semula. Para pengikutnya sebagian besar ada di daerah Indonesia, Jepang, Cina, dan Tibet.

KEMUNDURAN AGAMA BUDHA

Kemunduran agama Budha di India disebabkan karena :
o   Setelah Asoka wafat (232 SM) tidak ada raja yang mau melindungi dan mengembangkan agama Budha di India.
o   Agama Hindu berusaha memperbaiki kelemahan kelemahannya sehingga pengikutnya bertambah banyak.

PERSAMAAN dan PERBEDAAN AGAMA HINDU - BUDHA

Persamaan Hindu dan Buddha :
Ø  Sama-sama tumbuh dan berkembang di India
Ø  Selalu berusaha untuk meletakkan dasar-dasarajaran kebenaran dalam kehidupan manusia di dunia ini. Diarahkan pada tindakan-tindakan yang dibenarkan oleh agama.
Ø  Tujuan untuk menyelamatkan umat manusia dari rasa kegelapan/ mengantarkan umat manusia untuk dapat mencapai tujuan hidupnya.


Perbedaan Hindu dan Buddha :

HINDU BUDDHA
  1. Agama Hindu menggunakan bahasa Sansekerta dan tulisan palawa yang hanya di gunakan dan di mengerti oleh kaum Brahmana dan Ksatria saja. Sedangkan pada Agama Budha bahasa yang digunakan adalah bahasa keseharian yang dipakai oleh Bhiksu dan Bhiksuni (Parkit).
  2.  Agama Hindu menggunakan kasta sedangkan Agama Budha tidak mengenal adanya kasta. Sehingga kedudukanpun di mata Agama Budha sama.
  3. Muncul sebagai perpaduan budaya bangsa Aria dan bangsa Dravida
  4. Muncul sebagai upaya pencarian jalan lain menuju kesempurnaan yang dipimpin Sidharta
  5. Kehidupan masyarakat dikelompokkan menjadi 4 golongan yang disebut Kasta (kedudukan seseorang dalam masyarakat diterima secara turun-temurun/ didasarkan pada keturunan).
  6. Tidak diakui adanya kasta dan memandang kedudukan seseorang dalam masyarakat adalah sama.
  7. Dibenarkan untuk mengadakan korban Tidak dibenarkan mengadakan korban.
  8. Kitab suci, WEDA Kitab Suci, TRIPITAKA Mengakui 3 dewa tertinggi (Trimurti).
  9. Sidharta Gautama sebagai pemimpin agama Budha Agama
  10. Hindu hanya dapat dipelajari oleh kaum pendeta/Brahmana
  11. Agama Budha dapat dipelajari dan diterima oleh semua orang tanpa memandang kasta.
  12. Adanya pembedaan harkat dan martabat/hak dan kewajiban seseorang
  13. Tidak mengenal pembagian hak antara pria dan wanita.
  14. Agama Hindu hanya bisa dipelajari dengan menggunakan bahasa Sansekerta.
  15. Agama Budha disebarkan pada rakyat dengan menggunakan bahasa Prakrit
  16. Kesempurnaan (Nirwana) dapat dicapai dengan bantuan pendeta
  17. Setiap orang dapat mencapai kesempurnaan asal dapat mengendalikan diri sehingga terbebas dari samsara.

       Perkembangan agama dan kebudayaan hindu-budha kebudayaan dan agama Hindu-Budha pertama kali muncul di sekitar lembah sungai indus (shindu) India. Wilayah inilah merupakan awal perkembangan peradaban budaya Hindu-Buddha. Agama hindu yang ada di india ini mengenal sistem kasta. Agama Hindu sebenarnya merupakan sinkretisme (percampuran) antara kepercayaan bangsa Arya dengan kepercayaan Dravida. Sifatnya Polytheisme yaitu percaya terhadap banyak dewa. Tiap-tiap dewa merupakan lambang kekuatan terhadap alam, sehingga perlu disembah atau dipuja dan dihormati.

Ada beberapa dewa yang terkenal antara lain:
  • Prativi sebagai dewa bumi.
  • Surya sebagai dewa matahari
  • Vayu sebagai dewa angin
  • Varuna sebagai dewa laut
  • Agni sebagai dewa api

Kesimpulan :
  1. Agama Hindu diyakini tumbuh di India sekitar 1500 SM
  2. Agama Hindu dikembangkan oleh bangsa Arya yang memuja banyak dewa
  3. Kitab agama Hindu dimanakan Veda, yang terbagi atas 4 bagian :
a.       Regveda
b.      Yajurveda
c.       Samaveda
d.      Artharvaveda
  1. Dalam agama Hindu terdapat pembagian kasta masyarakat berdasarkan pembagian tugas atau pekerjaan. Kasta tersebut adalah :
a.       Brahmana
b.      Ksatria
c.       Waisya
d.      Sudra
  1. Terdapat masyarakat yang dianggap berada diluar kasta yaitu Paria yang meliputi gelandangan dan pengemis
  2. Agama Buddha pertama kali tumbuh di India, tepatnya di India Timur Laut sekitar 500 SM
  3. Diajarkan pertama kali oleh Shiddarta Gautama yang dikenal sebagai Buddha (seseorang yang telah mendapatkan pencerahan)
  4. Agama Buddha lahir dan muncul sebagai reaksi terhadap dominasi golongan Brahmana dalam ritual keagamaan
  5. Keseluruhan ajaran agama Buddha dibukukan dalam kitab Tripitaka
  6. Agama Buddha mengalami perkembangan dan menjadi dua pemahaman, yaitu Mahayana dan Hinayana